Belajar Fisika Jadi Seru! Pendidikan Fisika UIN Sunan Kalijaga Ajak Murid MAN 2 Klaten Bereksperimen dengan Alat Peraga Sederhana

Klaten, 27 Oktober 2026. Program Studi Pendidikan Fisika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di MAN 2 Klaten dengan mengusung tema “Pengenalan Alat Peraga Fisika Sederhana”. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep-konsep fisika melalui demonstrasi dan eksperimen menggunakan alat peraga sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, murid diajak untuk mengenal fisika tidak hanya sebagai kumpulan rumus dan teori, tetapi juga sebagai ilmu yang dapat diamati, dipraktikkan, dan diterapkan dalam berbagai fenomena di sekitar mereka. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh Himawan Putranta, M.Pd., bersama tim yang terdiri atas Dr. Murtono, M.Si., Norma Sidik Risdianto, Ph.D., dan Nira Nurwulandari, M.Pd. Pelaksanaan kegiatan juga didukung oleh dua mahasiswa, yaitu Zukhruf Mukhlasin dan Larasati Putri Utomo. Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa ini menjadi bagian dari upaya untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembelajaran fisika yang lebih kontekstual, interaktif, dan menyenangkan di lingkungan madrasah.

Dalam kegiatan tersebut, tim memperkenalkan tiga alat peraga fisika sederhana, yaitu Jembatan Da Vinci, roket air, dan alat peraga pembentukan bayangan pada cermin datar. Ketiga alat peraga dipilih karena memiliki karakteristik yang menarik secara visual sekaligus dapat digunakan untuk menjelaskan konsep-konsep fisika melalui pengamatan langsung dan demonstrasi eksperimen. Salah satu alat peraga yang diperkenalkan adalah Jembatan Da Vinci, sebuah konstruksi jembatan yang terinspirasi dari rancangan Leonardo da Vinci. Keunikan jembatan ini terletak pada susunan batang-batang kayu yang saling menopang dan membentuk struktur kokoh tanpa menggunakan paku, baut, atau perekat. Melalui demonstrasi ini, murid diperkenalkan pada konsep mekanika, khususnya gaya, keseimbangan benda, gaya normal, gaya gesek, serta distribusi beban pada suatu struktur. Murid diajak mengamati bagaimana susunan komponen yang tepat dapat menghasilkan konstruksi yang stabil dan mampu menopang beban. Demonstrasi ini sekaligus menunjukkan bahwa prinsip-prinsip fisika berperan penting dalam bidang teknik sipil dan pengembangan teknologi konstruksi.

Alat peraga berikutnya adalah roket air yang digunakan untuk memperkenalkan prinsip-prinsip fisika tentang gerak dan fluida. Melalui demonstrasi roket air, murid diajak memahami bagaimana tekanan udara yang tersimpan di dalam botol dapat mendorong air keluar, sehingga menghasilkan gaya dorong yang menyebabkan roket bergerak ke arah yang berlawanan. Fenomena ini berkaitan dengan Hukum III Newton tentang aksi dan reaksi serta prinsip kekekalan momentum. Selain itu, kegiatan ini juga membuka kesempatan bagi murid untuk mengenal konsep tekanan, gaya dorong, gerak parabola, dan faktor-faktor yang memengaruhi jarak dan ketinggian lintasan roket. Dengan menyaksikan secara langsung proses peluncuran roket air, konsep-konsep yang sebelumnya dipelajari secara teoretis menjadi lebih mudah diamati dan dipahami. Selanjutnya, tim memperkenalkan alat peraga untuk membentuk bayangan pada cermin datar. Melalui alat peraga ini, murid diajak mengamati proses pemantulan cahaya dan pembentukan bayangan pada cermin datar berdasarkan hukum pemantulan cahaya atau Hukum Snellius. Murid diperkenalkan pada hubungan antara sinar datang, garis normal, dan sinar pantul, dengan prinsip bahwa sudut datang sama dengan sudut pantul. Demonstrasi ini juga memperlihatkan bagaimana perpanjangan sinar pantul membentuk bayangan maya di belakang cermin. Dengan demikian, murid dapat memahami karakteristik bayangan pada cermin datar, seperti bersifat maya, tegak, sama besar dengan benda, dan memiliki jarak yang sama dengan jarak benda ke cermin.

Ketiga demonstrasi tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda sekaligus saling melengkapi. Jembatan Da Vinci memperlihatkan penerapan mekanika dalam konstruksi, roket air menunjukkan hubungan antara tekanan, gaya, dan gerak, sedangkan alat peraga cermin datar membantu murid memahami fenomena optika geometris. Melalui pendekatan demonstrasi dan eksperimen, murid memperoleh kesempatan untuk menghubungkan konsep-konsep abstrak dalam fisika dengan fenomena konkret yang dapat diamati secara langsung. Antusiasme murid MAN 2 Klaten terlihat selama pelaksanaan kegiatan. Mereka tidak hanya menyimak penjelasan yang disampaikan oleh tim pengabdian, tetapi juga menunjukkan partisipasi aktif melalui pengamatan, pertanyaan, diskusi, dan keterlibatan dalam demonstrasi alat peraga. Respons positif tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran konkret dapat menjadi salah satu alternatif untuk menciptakan suasana pembelajaran fisika yang lebih menarik dan mendorong rasa ingin tahu murid.

Himawan Putranta, M.Pd., menyampaikan bahwa pengenalan alat peraga sederhana merupakan salah satu upaya untuk mendekatkan fisika dengan pengalaman belajar siswa. Fisika sesungguhnya tidak hanya dipelajari melalui persamaan matematis dan penjelasan di dalam kelas, tetapi juga dapat dipahami melalui berbagai fenomena yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penggunaan alat peraga dan demonstrasi eksperimen diharapkan dapat membantu murid membangun pemahaman konseptual sekaligus menumbuhkan ketertarikan untuk mengeksplorasi fenomena alam secara ilmiah. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman antara perguruan tinggi dan madrasah dalam mengembangkan pembelajaran fisika yang inovatif. Kehadiran tim dosen dan mahasiswa Pendidikan Fisika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi para murid dan pendidik untuk memanfaatkan alat dan bahan sederhana sebagai media pembelajaran yang edukatif, kreatif, dan mudah dikembangkan. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema “Pengenalan Alat Peraga Fisika Sederhana” ini, Program Studi Pendidikan Fisika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berupaya memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi dan satuan pendidikan melalui kegiatan edukatif yang memberikan pengalaman belajar secara langsung. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan ketertarikan murid terhadap fisika, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, keterampilan berpikir kritis, dan keberanian untuk bereksperimen. Lebih jauh, pengalaman ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bahwa belajar fisika dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan, sederhana, dan bermakna.